★ 6,6LayarIndo21
Angka 21 di nama situs ini dipakai untuk menghitung bintang. LayarIndo21 membuka dua puluh satu layar, dan tiap layar memutar film seorang pemeran Indonesia: empat belas aktor, empat aktris, dan tiga komika. Sebuah film masuk ke layar seorang bintang bila sang bintang termasuk enam pemeran teratasnya. Film dengan pemeran di luar dua puluh satu nama itu diputar di empat layar tamu menurut tahun. Seratus delapan puluh tiga film Indonesia dari 1986 sampai 2026 berdiri di tepat satu layar masing-masing, dan nama layarnya tertulis di tiap poster.
Dua puluh lima layar: pilih bintangnya
Reza RahadianLayar Reza Rahadian
Lihat semua (11)
★ 6,6
★ 6,6
★ 7,0
★ 7,7
★ 7,7
★ 7,9Abimana AryasatyaLayar Abimana Aryasatya
Lihat semua (5)
★ 6,2
★ 6,8
★ 6,6
★ 6,8
★ 7,8Dion WiyokoLayar Dion Wiyoko
Lihat semua (6)
★ 7,5
★ 7,6
★ 6,9
★ 6,9
★ 5,3
★ 6,4Vino G. BastianLayar Vino G. Bastian
Lihat semua (6)
★ 6,2
★ 8,0
★ 6,6
★ 5,8
★ 6,1
★ 6,3Rio DewantoLayar Rio Dewanto
Lihat semua (5)
★ 7,2
★ 8,0
★ 7,0
★ 6,4
★ 5,0Nicholas SaputraLayar Nicholas Saputra
Lihat semua (6)
★ 6,4
★ 6,8
★ 6,8
★ 6,5
★ 6,3
★ 6,4Chicco JerikhoLayar Chicco Jerikho
Lihat semua (4)Adipati DolkenLayar Adipati Dolken
Lihat semua (5)
★ 7,3
★ 5,9
★ 7,1
★ 5,5
★ 7,7BucekLayar Bucek
Lihat semua (6)
★ 6,6
★ 6,2
★ 6,9
★ 6,3
★ 7,2
★ 6,4Angga YunandaLayar Angga Yunanda
Lihat semua (7)
★ 7,6
★ 7,3
★ 6,3
★ 7,3
★ 6,1
★ 4,3Tora SudiroLayar Tora Sudiro
Lihat semua (6)
★ 7,5
★ 7,6
★ 6,8
★ 5,7
★ 6,8
★ 2,7Morgan OeyLayar Morgan Oey
Lihat semua (5)Derby RomeroLayar Derby Romero
Lihat semua (5)
★ 8,1
★ 7,9
★ 7,1
★ 6,9
★ 6,2Iko UwaisLayar Iko Uwais
Lihat semua (5)Adinia WirastiLayar Adinia Wirasti
Lihat semua (6)
★ 7,5
★ 6,9
★ 7,7
★ 7,9
★ 6,6
★ 7,0Titi KamalLayar Titi Kamal
Lihat semua (5)Acha SeptriasaLayar Acha Septriasa
Lihat semua (5)Julie EstelleLayar Julie Estelle
Lihat semua (4)Ernest PrakasaLayar Ernest Prakasa
Lihat semua (6)
★ 6,2
★ 5,9
★ 7,7
★ 6,6
★ 6,3
★ 7,2Raditya DikaLayar Raditya Dika
Lihat semua (6)
★ 7,1
★ 6,7
★ 7,1
★ 7,4
★ 6,2
★ 7,3Kemal PaleviLayar Kemal Palevi
Lihat semua (5)
★ 5,4
★ 5,6
★ 4,5
★ 7,1
★ 8,0Tamu 1986–2015Layar tamu 1986–2015
Lihat semua (14)Tamu 2016–19Layar tamu 2016–2019
Lihat semua (22)Tamu 2020–22Layar tamu 2020–2022
Lihat semua (13)Tamu 2023–26Layar tamu 2023–2026
Lihat semua (15)
★ 6,2
★ 7,0
★ 7,9
★ 5,7
★ 8,4
★ 6,9Panduan LayarIndo21
LayarIndo21: satu layar untuk tiap bintang
Dua puluh satu bintang, dua puluh satu layar
Banyak penonton Indonesia memilih film dengan cara yang sangat sederhana: lihat siapa pemainnya. "Ada Reza Rahadian? Tonton." "Ini film Iko Uwais? Pasti seru." LayarIndo21 menjadikan kebiasaan itu susunannya. Angka 21 di nama situs ini menghitung bintang: dua puluh satu pemeran Indonesia, masing-masing dengan satu layar.
Seratus delapan puluh tiga film Indonesia diputar di sini. Seratus sembilan belas di antaranya berdiri di layar para bintang, dan enam puluh empat lainnya di empat layar tamu yang disusun menurut tahun. Gagasan ini diuraikan di Satu layar untuk tiap bintang.
Tiap film memiliki halaman sendiri dengan poster, sinopsis berbahasa Indonesia, daftar pemeran, sutradara, durasi, dan rating. Tombol Tonton sekarang membuka judul itu di JustWatch, tempat layanan resmi untuk negara Anda ditampilkan. Kunjungan pertama paling mudah dimulai dari Mulai di LayarIndo21.
Empat warna di papan layar
Papan di beranda memuat dua puluh lima kotak, dan warna garis kirinya menunjukkan kelompoknya. Biru adalah layar para aktor: empat belas layar dengan 82 film. Ungu adalah layar para aktris: empat layar dengan 20 film. Jingga adalah layar para komika: tiga layar dengan 17 film, untuk tiga pelawak tunggal yang juga menulis dan menyutradarai.
Abu-abu adalah layar tamu: empat layar dengan 64 film yang dibintangi pemeran di luar dua puluh satu nama itu. Delapan puluh dua ditambah dua puluh ditambah tujuh belas ditambah enam puluh empat sama dengan seratus delapan puluh tiga. Halaman Layar memuat daftar lengkapnya, ditambah daftar film berating 7,5 atau lebih.
Bagaimana sebuah film masuk ke sebuah layar
Aturannya dibuat sederhana dan sama untuk semua. Sebuah film masuk ke layar seorang bintang bila sang bintang termasuk enam pemeran teratas film itu menurut catatan sumber data, sebagai pemeran utama maupun pendukung. Dua puluh satu bintang dipilih karena merekalah yang paling sering muncul dengan cara itu di katalog ini.
Bila dua atau tiga bintang bermain dalam satu film, film itu diputar di layar yang isinya paling sedikit, agar setiap layar terisi cukup. Karena itu setiap film berdiri di tepat satu layar, dan sebagian film seorang bintang dapat ditemukan di layar rekan mainnya. Bagian tentang tiap bintang di bawah menyebut film-film semacam itu. Penjelasan lengkapnya ada di Cara film masuk layar.
Cara membaca satu poster
Tiap poster di beranda membawa rating di sudut kanan atas dan tanda kelompok di sudut kiri atas: Aktor, Aktris, Komika, atau Tamu. Di bagian bawah poster tertulis "Layar:" diikuti nama bintangnya. Di bawah poster ada judul, genre utama, dan durasi. Uraiannya ada di Nama layar di poster.
Katalog dalam angka
Rata-rata rating seluruh katalog adalah 6,7 dan rata-rata durasinya 110 menit. Tiga puluh delapan film memiliki rating 7,5 atau lebih, dan tiga belas memiliki 8,0 atau lebih. Tahun rilisnya membentang dari 1986 sampai 2026, dengan tahun paling ramai 2019, yang menyumbang dua puluh tiga film.
Menurut genre utama, sembilan puluh dua film adalah drama, empat puluh tiga komedi, dua puluh empat laga, dan sembilan kisah romantis. Rating tertinggi dipegang Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) dengan 8,8, disusul 1 Kakak 7 Ponakan (2025) dan Dancing in the Rain (2018) dengan 8,4.
Satu catatan tentang rating film Indonesia: jumlah penilainya di sumber data internasional sering hanya puluhan, sehingga angka itu lebih baik dibaca sebagai petunjuk awal daripada putusan. Sinopsis dan nama-nama di daftar pemeran biasanya memberi gambaran yang lebih dapat diandalkan.
Layar para aktor: delapan puluh dua film
Empat belas aktor memiliki layarnya sendiri, dan bersama-sama mereka memutar 82 film dengan rata-rata rating 6,7. Delapan belas di antaranya memiliki rating 7,5 atau lebih. Tahun rilisnya membentang dari 2000 sampai 2026. Panduannya ada di Panduan layar para aktor.
Layar Reza Rahadian
Layar terbesar di LayarIndo21 memutar sebelas film, dan itu baru sebagian: Reza Rahadian muncul di sembilan belas film katalog ini, terbanyak di antara semua pemeran. Rating tertinggi di layarnya dipegang Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010) dengan 7,9, satire tentang sarjana pengangguran yang mendidik kawanan pencopet.
Habibie & Ainun (2012) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013, 163 menit) sama-sama memiliki 7,7; dalam yang pertama ia memerankan presiden ketiga Indonesia. Twivortiare (2019) memiliki 7,6. Ragam perannya lebar: atasan yang menyebalkan dalam My Stupid Boss (2016), pelatih panahan dalam 3 Srikandi (2016), detektif yang sekarat dalam 24 Jam Bersama Gaspar (2023), dan tokoh dalam film pahlawan super Sri Asih (2022).
Delapan filmnya yang lain diputar di layar rekan mainnya, antara lain dua film Perahu Kertas di layar Adipati Dolken, Critical Eleven dan Kapan Kawin? di layar Adinia Wirasti, serta Rudy Habibie di layar Ernest Prakasa.
Layar Abimana Aryasatya
Layar ini memutar lima film. Laskar Pelangi 2: Edensor (2013) memimpin dengan rating 7,8. 99 Cahaya di Langit Eropa (2013) dan The Big 4 (2022) memiliki 6,8, dan di Gundala (2019) karya Joko Anwar ia menjadi pahlawan super. 3 (2015) adalah film laga berlatar Jakarta masa depan. Lima filmnya yang lain ada di layar lain, termasuk dua film Warkop DKI Reborn, tempat ia memerankan Dono.
Layar Dion Wiyoko
Layar ini memutar enam film dari 2009 sampai 2025. Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (2019) memimpin dengan 7,6, dan Sore: Istri Dari Masa Depan (2025) memiliki 7,5. Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014) dan Serigala Terakhir (2009) memiliki 6,9. Tiga filmnya yang lain, termasuk dua Cek Toko Sebelah, diputar di layar tetangga.
Layar Vino G. Bastian
Layar ini memutar enam film dan membentang dua puluh tahun, dari Catatan Akhir Sekolah (2005) sampai Lupa Daratan (2025). Sabar Ini Ujian (2020) memimpin dengan rating 8,0: seorang pria terjebak mengulang hari pernikahan mantan kekasihnya. Dalam Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (2018) ia memerankan pendekar yang dulu ditulis ayahnya. Realita, Cinta dan Rock'n Roll (2006) dan Punk in Love (2009) mewakili masa mudanya.
Layar Rio Dewanto dan layar Chicco Jerikho
Dua aktor ini paling sering bermain bersama: empat film di katalog memuat nama keduanya, yaitu tiga kisah kedai kopi Ben dan Jody serta Surat dari Praha. Film-film itu terbagi di antara tiga layar. Layar Rio Dewanto memutar lima film, dipimpin Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti (2023) dengan rating 8,0, lalu Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (2020) dan Filosofi Kopi 2: Ben & Jody (2017).
Layar Chicco Jerikho memutar empat film: Negeri van Oranje (2015), Aach... Aku Jatuh Cinta (2016) karya Garin Nugroho, Ave Maryam (2019) yang hanya 74 menit, dan Ben & Jody (2022). Film pertama Filosofi Kopi sendiri diputar di layar Julie Estelle.
Layar Nicholas Saputra
Layar ini memutar enam film, dua di antaranya dari tahun 2005: Gie (140 menit), riwayat aktivis Soe Hok Gie, dan Janji Joni (83 menit) karya Joko Anwar. Aruna & Lidahnya (2018) dan Pendekar Tongkat Emas (2014) memperlihatkan dua sisi lain, dan Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016) mengembalikannya sebagai Rangga. Film pertama kisah itu diputar di layar Adinia Wirasti.
Layar Adipati Dolken dan layar Bucek
Layar Adipati Dolken memutar lima film, dipimpin Perahu Kertas 2 (2012) dengan 7,7 dan Perahu Kertas (2012) dengan 7,1. The Shadow Strays (2024, 145 menit) memiliki 7,3.
Layar Bucek memutar enam film dan memperlihatkan seorang aktor senior dalam peran ayah: ia hadir di tiga film dunia Dilan, yaitu Dilan 1991 (2019), Milea: Suara dari Dilan (2020), dan Dilan 1983: Wo Ai Ni (2024). Wedding Agreement (2019) memimpin layarnya dengan 7,2.
Layar Angga Yunanda
Layar ini memutar tujuh film, semuanya sejak 2019, dan menjadi layar aktor termuda. Jumbo (2025), film animasi tempat ia mengisi suara, memimpin dengan rating 7,6. Dua Garis Biru (2019) dan Dopamin (2025) memiliki 7,3. Mariposa (2020), MeloDylan (2019), dan Catatan si Boy (2023) mewakili peran remajanya. Ketujuh film Angga Yunanda di katalog berdiri di layarnya sendiri.
Layar Tora Sudiro
Layar ini memutar enam film. Laskar Pelangi (2008) memimpin dengan 7,6 dan Cek Toko Sebelah (2016) menyusul dengan 7,5; dalam keduanya ia pemeran pendukung. Dua film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016) dan lanjutannya menempatkannya sebagai Indro. Nagabonar Jadi 2 (2007) melengkapi layar.
Layar Morgan Oey dan layar Derby Romero
Layar Morgan Oey memutar lima film dengan rata-rata 7,18. Assalamualaikum Beijing (2014) dan Sweet 20 (2017) sama-sama memiliki 7,5, sedangkan Belok Kanan Barcelona (2018) dan Pengepungan di Bukit Duri (2025) memiliki 7,3.
Layar Derby Romero memutar lima film dengan rata-rata 7,24, tertinggi di antara layar aktor. Ia tumbuh bersama penonton: bocah nakal dalam Petualangan Sherina (2000) dengan rating 7,9, lalu pria dewasa dalam Petualangan Sherina 2 (2023). Home Sweet Loan (2024) memimpin layarnya dengan 8,1.
Layar Iko Uwais
Layar ini memutar kelima film Iko Uwais di katalog, seluruhnya laga; redaksi sengaja mengumpulkan kelimanya di satu layar. The Raid 2: Berandal (2014, 150 menit) memimpin dengan 7,6 dan Serbuan Maut (2012) menyusul dengan 7,4. Merantau (2009) adalah film pertamanya. Headshot (2016) dan The Night Comes For Us (2018) digarap Timo Tjahjanto. Rata-rata durasi layar ini 125 menit, terpanjang di antara semua layar bintang.
Layar para aktris: dua puluh film
Empat aktris memiliki layarnya sendiri, dengan dua puluh film dan rata-rata rating 6,96, tertinggi di antara empat kelompok. Enam film memiliki rating 7,5 atau lebih. Panduannya ada di Layar para aktris dan komika.
Layar Adinia Wirasti
Layar ini memutar enam film dengan rata-rata 7,27. Cek Toko Sebelah 2 (2022) memimpin dengan 7,9 dan Susah Sinyal (2017) menyusul dengan 7,7. Ada Apa dengan Cinta? (2002), dengan rating 7,5, adalah film tertua di layarnya; di sana ia memerankan Karmen. Critical Eleven (2017) dan Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018, 148 menit) melengkapi layar bersama Kapan Kawin? (2015).
Layar Titi Kamal dan layar Acha Septriasa
Layar Titi Kamal memutar lima film komedi dan drama dari 2016 sampai 2023, dipimpin Hangout (2016) dengan rating 7,2. Insya Allah Sah (2017), Sesuai Aplikasi (2018), Rumput Tetangga (2019), dan Air Mata di Ujung Sajadah (2023) melengkapi layarnya.
Layar Acha Septriasa memutar lima film. Sabtu Bersama Bapak (2016) memimpin dengan 7,5 dan Koala Kumal (2016) menyusul dengan 7,4. Heart (2006) adalah film yang melambungkan namanya, dan dalam Kartini (2017) ia memerankan saudari sang tokoh. June & Kopi (2021) menutup layar.
Layar Julie Estelle
Layar terkecil ini memiliki rata-rata tertinggi di antara semua layar bintang, 7,38. Empat filmnya dipimpin Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) dengan 8,8, rating tertinggi di LayarIndo21. Filosofi Kopi (2015) dan Surat dari Praha (2016) digarap sutradara yang sama, dan satu komedi tahun 2018 tentang pasangan muda yang membuka restoran memiliki 7,6. Dua film laganya bersama Iko Uwais diputar di layar sang rekan.
Layar para komika: tujuh belas film
Tiga layar jingga diberikan kepada tiga pelawak tunggal yang menulis, menyutradarai, dan membintangi filmnya sendiri. Tujuh belas film di sini memiliki rata-rata 6,61. Ketiganya juga sering muncul di film satu sama lain.
Layar Ernest Prakasa
Ernest Prakasa muncul di lima belas film katalog, terbanyak kedua sesudah Reza Rahadian, sebagai pemeran, penulis, atau sutradara. Layarnya memutar enam: Ngenest (2015) dengan rating 7,2, film pertama yang ia sutradarai; Rudy Habibie (2016) dengan 7,7; dua film pertama Comic 8; Stip & Pensil (2017); dan Kaka Boss (2024). Sembilan filmnya yang lain tersebar di tujuh layar, termasuk dua Cek Toko Sebelah dan Susah Sinyal, tiga film yang ia sutradarai.
Layar Raditya Dika dan layar Kemal Palevi
Layar Raditya Dika memutar enam film dengan rata-rata 6,97. Catatan Harian Menantu Sinting (2024) memimpin dengan 7,4 dan Single: Part 2 (2019) menyusul dengan 7,3. Marmut Merah Jambu (2014), Single (2015), dan The Guys (2017) ia sutradarai sendiri, dan Cinta Brontosaurus (2013) diangkat dari bukunya.
Layar Kemal Palevi memutar lima film. Sebuah drama rumah tangga tahun 2015 memimpin layarnya dengan rating 8,0, dan Cinta Subuh (2022) memiliki 7,1. Kemal dan Ernest bermain bersama dalam empat film katalog, pasangan yang paling sering bertemu selain Rio Dewanto dan Chicco Jerikho.
Layar tamu: enam puluh empat film
Enam puluh empat film dibintangi pemeran di luar dua puluh satu nama tadi, dan mereka diputar di empat layar tamu menurut tahun rilis. Rata-rata ratingnya 6,64, dan dua belas film memiliki rating 7,5 atau lebih. Di sinilah berdiri banyak judul yang sangat dikenal, sebab film besar sering mengandalkan pemeran yang jarang muncul atau pendatang baru. Panduannya ada di Panduan layar tamu.
Layar tamu 1986–2015
Layar ini memutar empat belas film tertua, dengan rata-rata 6,82. Nagabonar (1986), film tertua di LayarIndo21, memiliki rating 7,1: komedi tentang pencopet Medan yang menjadi jenderal pada masa revolusi. Soekarno: Indonesia Merdeka (2013, 137 menit) memimpin layar dengan 7,4, dan Soegija (2012) karya Garin Nugroho memiliki 7,2.
Tiga film tentang anak muda dan cita-cita berdiri berjajar: Sang Pemimpi (2009), Negeri 5 Menara (2012) dengan 7,1, dan 5 cm (2012) dengan 7,0. Sokola Rimba (2013) mengikuti seorang guru di pedalaman Jambi. Ayat-Ayat Cinta (2008) dan Get Married (2007) mewakili masa ketika film Indonesia kembali memenuhi bioskop. The Mentalist (2011), Refrain (2013), Komedi Moderen Gokil (2015), dan Catatan Akhir Kuliah (2015) melengkapi layar.
Layar tamu 2016–2019
Layar tamu terbesar memutar dua puluh dua film dari tahun-tahun paling sibuk di katalog. Enam memiliki rating 7,5 atau lebih. Dancing in the Rain (2018) memimpin dengan 8,4, kisah seorang anak dengan autisme dan neneknya. 27 Steps of May (2019) memiliki 8,1, sedangkan Keluarga Cemara (2019) dan Bebas (2019) memiliki 8,0.
Love for Sale (2018) memiliki 7,9 dan Dilan 1990 (2018) memiliki 7,5; film Dilan itu ditonton lebih dari enam juta orang di bioskop dan menjadikan dua pemeran mudanya bintang baru. Si Doel the Movie (2018) dengan 7,2 dan lanjutannya membawa keluarga Betawi kesayangan televisi ke layar lebar. Bumi Manusia (2019), dengan 181 menit, adalah film terpanjang di LayarIndo21.
Layar ini juga memuat beberapa rating terendah katalog, pengingat bahwa tahun-tahun ramai menghasilkan film dari segala mutu: Rafathar (2017) dengan 2,7 dan Ten: The Secret Mission (2017) dengan 3,7. Galih & Ratna (2017), Kucumbu Tubuh Indahku (2019), Terlalu Tampan (2019), dan Preman Pensiun: The Movie (2019) berada di tengah.
Layar tamu 2020–2022
Layar ini memutar tiga belas film dari masa ketika bioskop sempat tutup dan banyak film Indonesia tayang perdana di layanan streaming. Tersanjung: The Movie (2021) memimpin dengan rating 8,2, dan Ngeri-Ngeri Sedap (2022) menyusul dengan 7,9: komedi keluarga Batak yang menjadi salah satu film paling dibicarakan tahunnya.
Tarung Sarung (2020) memiliki 7,4 dan A Perfect Fit (2021) memiliki 7,3. Ali & Ratu Ratu Queens (2021) membawa cerita ke New York, Geez & Ann (2021) dan Kukira Kau Rumah (2021) bercerita tentang cinta dan kesehatan jiwa anak muda, dan Satria Dewa: Gatotkaca (2022) mencoba membuka semesta pahlawan wayang. Guru-Guru Gokil (2020), Bucin (2020), dan Jakarta vs Everybody (2020) melengkapi layar.
Layar tamu 2023–2026
Layar termuda memutar lima belas film dengan rata-rata 7,17, tertinggi di antara empat layar tamu. 1 Kakak 7 Ponakan (2025) karya Yandy Laurens memimpin dengan 8,4. Lucid Love (2024), yang hanya 71 menit dan menjadi film terpendek di katalog, memiliki 8,2, sama dengan sebuah drama tahun 2025 tentang pasangan yang menghadapi kabar berat.
Surat untuk Masa Mudaku (2026) memiliki 7,9. Seni Memahami Kekasih (2024) dan Pesta Babi (2026), sebuah dokumenter, memiliki 7,3. FOUFO (2026) adalah animasi kedua di katalog sesudah Jumbo. 13 Bom di Jakarta (2023, 143 menit), Kabut Berduri (2024), dan Sleep Call (2023) mewakili laga dan thriller, sedangkan Keluarga Super Irit (2025) dan Children of Heaven (2026) mewakili film keluarga.
Naiknya rata-rata di layar termuda ini sebagian mencerminkan perbaikan mutu dan sebagian lagi kebiasaan penilai: film baru biasanya pertama-tama dinilai para penggemarnya, dan angka itu dapat bergeser ketika penontonnya bertambah.
Wajah-wajah di layar tamu
Layar tamu disusun menurut tahun, tetapi isinya tetap penuh bintang. Dilan 1990 dibintangi Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla. Keluarga Cemara dibintangi Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir. Si Doel the Movie mengembalikan Rano Karno, Maudy Koesnaedi, dan Cornelia Agatha ke peran yang mereka mainkan sejak 1990-an. Nagabonar dibintangi Deddy Mizwar, yang dua puluh empat tahun kemudian menyutradarai Alangkah Lucunya (Negeri Ini).
5 cm mengumpulkan enam nama sekaligus: Herjunot Ali, Fedi Nuril, Pevita Pearce, Raline Shah, Denny Sumargo, dan Igor Saykoji. Ngeri-Ngeri Sedap dibintangi Arswendy Bening Swara dan Tika Panggabean sebagai orang tua, dengan Boris Bokir, Gita Bhebhita, Lolox, dan Indra Jegel sebagai anak-anaknya. Love for Sale dibintangi Gading Marten, dan 27 Steps of May dibintangi Raihaanun bersama Lukman Sardi.
Jadi layar tamu sebenarnya adalah ruang tunggu para bintang. Seandainya katalog ini dua kali lebih besar, beberapa nama di atas hampir pasti sudah memiliki layarnya sendiri.
Bintang yang sering bertemu
Karena tiap film berdiri di satu layar saja, pertemuan antarbintang paling mudah dilihat lewat pencarian. Dua pasangan bermain bersama dalam empat film katalog: Rio Dewanto dengan Chicco Jerikho, serta Ernest Prakasa dengan Kemal Palevi. Adinia Wirasti dan Ernest Prakasa bertemu dalam tiga film.
Sebelas pasangan lain bertemu dua kali. Nicholas Saputra, Titi Kamal, dan Adinia Wirasti bertemu dalam dua film Ada Apa dengan Cinta?. Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro bertemu dalam dua film Warkop DKI Reborn sebagai Dono, Kasino, dan Indro. Iko Uwais dan Julie Estelle bertemu dalam dua film laga. Dion Wiyoko bertemu Ernest Prakasa dan Adinia Wirasti dalam dua film Cek Toko Sebelah.
Jaringan itu memperlihatkan bahwa perfilman Indonesia adalah dunia yang akrab. Seorang penonton yang mengikuti satu bintang hampir pasti akan bertemu tiga atau empat bintang lain di sepanjang jalan. Daftar pertemuan lengkapnya ada di Bintang yang sering bertemu.
Sutradara di balik layar para bintang
Layar seorang bintang juga bercerita tentang sutradara yang mempercayainya. Tiga film di layar Iko Uwais digarap Gareth Evans dan dua digarap Timo Tjahjanto. Lima film Angga Dwimas Sasongko tersebar di layar Rio Dewanto dan Julie Estelle, ditambah satu di layar Chicco Jerikho. Tiga film dunia Dilan di layar Bucek digarap Fajar Bustomi.
Hanung Bramantyo adalah sutradara yang paling sering muncul di LayarIndo21, dengan film di layar Reza Rahadian, Adipati Dolken, Vino G. Bastian, Adinia Wirasti, Acha Septriasa, Angga Yunanda, Ernest Prakasa, dan keempat layar tamu. Riri Riza hadir lewat Laskar Pelangi, Gie, dua Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta? 2, Sang Pemimpi, Sokola Rimba, dan Bebas.
Yandy Laurens hanya memiliki empat film di katalog, dan tiga di antaranya berating 8,0 atau lebih: Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, 1 Kakak 7 Ponakan, dan Keluarga Cemara. Film keempatnya, Sore: Istri Dari Masa Depan, memiliki 7,5. Itu catatan paling rapi di antara semua sutradara di sini.
Para komika sebagai pembuat film
Tiga layar jingga layak dibaca bersama, sebab ketiganya mewakili gelombang yang mengubah komedi Indonesia sejak 2013. Raditya Dika memulai dari buku dan blog, lalu menyutradarai filmnya sendiri. Ernest Prakasa memulai dari panggung lawak tunggal dan Comic 8, lalu menulis serta menyutradarai komedi keluarga yang semakin matang. Kemal Palevi mengikuti jalur serupa.
Ciri film mereka mudah dikenali: tokoh utama yang canggung, keluarga yang cerewet, dan sederet komika lain di peran kecil. Ernest Prakasa saja tercatat di lima belas film katalog. Jika Anda menyukai satu film dari layar jingga, hampir pasti ada lima atau enam lagi dengan rasa yang berdekatan di layar-layar lain; nama-nama di daftar pemeran akan menuntun Anda.
Laga Indonesia di tiga layar
Dua puluh empat film laga di katalog berkumpul terutama di tiga tempat. Layar Iko Uwais memuat lima, dan kelimanya dikenal penonton dunia. Layar Abimana Aryasatya memuat Gundala dan The Big 4, ditambah 3, drama laga berlatar masa depan. Layar Adipati Dolken memuat The Shadow Strays.
Sisanya tersebar: Wiro Sableng di layar Vino G. Bastian, Sri Asih dan 24 Jam Bersama Gaspar di layar Reza Rahadian, Pengepungan di Bukit Duri di layar Morgan Oey, dua film Comic 8 di layar Ernest Prakasa, serta 13 Bom di Jakarta dan Tarung Sarung di layar tamu. Penonton laga dapat menyusun maraton lintas layar hanya dengan mengetik nama Timo Tjahjanto atau Joko Anwar di kotak pencarian.
Tiga puluh delapan film berating 7,5 atau lebih
Daftar rating 7,5 atau lebih mengumpulkan tiga puluh delapan film dari semua layar, dengan rata-rata 7,85. Delapan belas berasal dari layar para aktor, enam dari layar para aktris, dua dari layar para komika, dan dua belas dari layar tamu.
Tiga belas film memiliki rating 8,0 atau lebih. Selain yang sudah disebut ada Sabar Ini Ujian di layar Vino G. Bastian, Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti di layar Rio Dewanto, Home Sweet Loan di layar Derby Romero, serta Tersanjung: The Movie, Lucid Love, 27 Steps of May, Bebas, dan Keluarga Cemara di layar tamu.
Hampir semuanya drama atau komedi keluarga. Film Indonesia yang paling disukai penilainya adalah film yang bercerita tentang rumah, orang tua, dan cinta yang diuji, sedangkan film laga terbaik berhenti di 7,6. Uraiannya ada di Panduan rating 7,5.
Film Indonesia dari tahun ke tahun
Sebaran tahun di LayarIndo21 menggambar sejarah singkat. Hanya satu film berasal dari sebelum 2000, dan sebelas dari 2000 sampai 2008. Sejak 2012 jumlahnya menanjak: tujuh film dari 2012, delapan dari 2013, sembilan dari 2014, sepuluh dari 2015, enam belas dari 2016, dan delapan belas dari 2017.
Puncaknya 2019 dengan dua puluh tiga film, tahun ketika bioskop Indonesia mencatat jumlah penonton tertinggi sebelum pandemi. Tahun 2020 dan 2021 turun menjadi sembilan dan tujuh film. Sesudahnya angka pulih: sebelas film dari 2022, delapan dari 2023, sembilan dari 2024, dan dua belas dari 2025. Uraiannya ada di Film Indonesia dari tahun ke tahun.
Layar para bintang mengikuti gelombang itu. Layar Nicholas Saputra dan Vino G. Bastian berakar di pertengahan 2000-an. Layar Reza Rahadian, Abimana Aryasatya, dan para komika tumbuh pada 2010-an. Layar Angga Yunanda seluruhnya lahir sejak 2019. Membaca layar-layar itu berurutan berarti menyaksikan pergantian generasi.
Rasa tiap layar
Tiap layar memiliki rasa utamanya. Layar Iko Uwais seluruhnya laga. Layar Titi Kamal dan layar Tora Sudiro hampir seluruhnya komedi. Layar Nicholas Saputra, Chicco Jerikho, dan Rio Dewanto hampir seluruhnya drama. Layar Reza Rahadian paling beragam: drama sejarah, komedi kantor, kisah cinta, laga, dan pahlawan super berdiri di satu tempat, cermin dari kelenturan pemerannya.
Durasi juga berbeda dari layar ke layar. Layar Chicco Jerikho paling ringkas, dengan rata-rata 92 menit, disusul layar Titi Kamal dengan 96 menit. Layar Iko Uwais paling panjang dengan 125 menit, disusul layar Adinia Wirasti dengan 122 menit. Untuk malam yang pendek, dua layar pertama adalah pilihan yang aman.
Menurut rata-rata rating, lima layar bintang teratas adalah Julie Estelle (7,38), Adinia Wirasti (7,27), Derby Romero (7,24), Morgan Oey (7,18), dan Acha Septriasa (6,98). Angka itu lebih bercerita tentang pilihan film mereka di katalog ini daripada tentang mutu akting, dan layar dengan sedikit film mudah terangkat oleh satu judul berating tinggi.
Dua puluh satu bintang dalam angka
Berapa film seorang bintang di katalog, dan berapa yang berdiri di layarnya sendiri? Reza Rahadian muncul di sembilan belas film dan menyimpan sebelas. Ernest Prakasa muncul di lima belas dan menyimpan enam. Abimana Aryasatya muncul di sepuluh dan menyimpan lima. Dion Wiyoko, Vino G. Bastian, dan Raditya Dika masing-masing muncul di sembilan dan menyimpan enam.
Adinia Wirasti muncul di delapan film dan menyimpan enam; Rio Dewanto dan Kemal Palevi muncul di delapan dan menyimpan lima. Tujuh film dimiliki Nicholas Saputra, Bucek, Titi Kamal, Adipati Dolken, Chicco Jerikho, dan Angga Yunanda, dengan enam, enam, lima, lima, empat, dan tujuh di layar masing-masing.
Acha Septriasa, Morgan Oey, Tora Sudiro, dan Julie Estelle muncul di enam film; Derby Romero dan Iko Uwais di lima. Empat bintang menyimpan seluruh filmnya di layar sendiri: Angga Yunanda, Tora Sudiro, Derby Romero, dan Iko Uwais. Makin sering seorang bintang bermain bersama bintang lain, makin banyak filmnya yang berpindah ke layar tetangga, dan itulah sebabnya Ernest Prakasa, yang gemar mengajak kawan, hanya menyimpan enam dari lima belas.
Film terpendek dan terpanjang
Rata-rata film di LayarIndo21 berlangsung 110 menit, lebih ringkas daripada kebanyakan film impor. Empat film selesai dalam 85 menit atau kurang: Lucid Love (71 menit), Ave Maryam (74 menit), serta Janji Joni dan Insya Allah Sah (83 menit). Si Doel the Movie dan Aach... Aku Jatuh Cinta berlangsung 85 menit.
Di ujung lain, sembilan film berlangsung 140 menit atau lebih: Bumi Manusia (181), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (163), The Raid 2: Berandal (150), Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (148), The Shadow Strays (145), 13 Bom di Jakarta (143), Rudy Habibie (142), The Big 4 (141), dan Gie (140). Kesembilannya adalah drama sejarah, riwayat tokoh, atau laga besar, jenis film yang memerlukan ruang.
Durasi tertulis di bawah tiap poster, sehingga Anda dapat menimbangnya sebelum memilih. Untuk malam kerja, film sembilan puluh menit dari layar Chicco Jerikho atau Titi Kamal lebih masuk akal daripada epos tiga jam.
Film pertama di tiap layar
Film tertua di tiap layar menunjukkan kapan seorang bintang mulai terlihat. Layar Derby Romero dibuka oleh film tahun 2000, layar Adinia Wirasti oleh film tahun 2002, layar Vino G. Bastian dan Nicholas Saputra oleh film tahun 2005, layar Acha Septriasa oleh film tahun 2006, dan layar Tora Sudiro oleh film tahun 2007.
Layar Iko Uwais dan Dion Wiyoko dibuka pada 2009, layar Reza Rahadian pada 2010, layar Adipati Dolken pada 2012, lalu layar Abimana Aryasatya, Raditya Dika, dan Bucek pada 2013. Layar Morgan Oey, Ernest Prakasa, dan Kemal Palevi dibuka pada 2014, layar Chicco Jerikho dan Julie Estelle pada 2015, layar Titi Kamal pada 2016, layar Rio Dewanto pada 2017, dan layar Angga Yunanda pada 2019.
Tahun-tahun itu adalah tahun film tertua mereka di katalog ini, yang kadang lebih muda daripada debut sebenarnya. Titi Kamal, misalnya, sudah bermain dalam Ada Apa dengan Cinta? pada 2002, tetapi film itu diputar di layar Adinia Wirasti.
Cara memakai LayarIndo21 sehari-hari
Beranda LayarIndo21 dibuka dengan pengantar, lalu papan dua puluh lima layar. Tiap kotak menulis nama bintang atau rentang tahun layar tamu, kelompoknya, dan jumlah filmnya. Satu ketukan membawa Anda ke baris layar itu, yang menampilkan sampai enam poster dan tombol "Lihat semua".
Halaman sebuah layar memuat seluruh filmnya dari yang tertua, sehingga Anda dapat mengikuti perjalanan seorang bintang dari peran awal sampai yang terbaru. Di layar Derby Romero, misalnya, dua puluh empat tahun berlalu antara poster pertama dan poster terakhir.
Mencari seorang bintang
Kotak pencarian LayarIndo21 menerima nama pemeran, dan inilah cara menemukan seluruh film seorang bintang, termasuk yang diputar di layar rekan mainnya. Ketik "Reza Rahadian" dan sembilan belas filmnya muncul; nama layar di tiap poster memberi tahu di mana masing-masing berdiri. Ketik "Ernest Prakasa" untuk lima belas film di delapan layar.
Pencarian juga berguna untuk pemeran di luar dua puluh satu nama. Ketik "Christine Hakim", "Lukman Sardi", atau "Chelsea Islan" untuk melihat film mereka di berbagai layar. Halaman A–Z memuat seluruh 183 judul menurut abjad. Kiat lengkapnya ada di Pencarian.
Halaman film
Halaman film di LayarIndo21 memuat judul asli, tahun, durasi, rating, genre, sinopsis, sutradara, dan daftar pemeran yang lebih panjang daripada enam nama teratas. Dari daftar itu Anda dapat melihat siapa saja yang bermain bersama sang bintang. Di bawahnya, pilihan negara dan tombol Tonton sekarang mengantar ke JustWatch, yang mencantumkan layanan resmi penayang film tersebut.
Sebagai panduan, LayarIndo21 berhenti di sana; pemutaran berlangsung di layanan resmi. Film Indonesia beberapa tahun terakhir banyak tersedia di layanan streaming besar, sedangkan film yang lebih lama kadang hanya tersedia sebagai sewaan. Soal bahasa dijelaskan di Bahasa dan subtitle.
Daftar Saya
Tombol Daftar Saya di tiap poster LayarIndo21 menyimpan film ke daftar pribadi di peramban perangkat Anda. Daftar itu terisi seketika dan tetap ada pada kunjungan berikutnya dari perangkat yang sama.
Satu cara menyusunnya: pilih satu bintang tiap bulan dan masukkan seluruh layarnya ke daftar. Sebagian besar layar berisi lima atau enam film, pas untuk empat akhir pekan dengan satu atau dua film cadangan. Dalam setahun Anda menamatkan dua belas layar. Kiat lainnya ada di Panduan Daftar Saya.
LayarIndo21 di ponsel
Di ponsel, bilah biru tua LayarIndo21 menyisakan logo berbintang dan tombol menu. Papan layar tersusun dua kotak per baris, dan poster juga dua per baris dengan nama layar yang tetap terbaca di bagian bawahnya. Menu membuka Layar, keempat kelompok, Rating 7,5+, dan A–Z.
Halamannya ringan sehingga nyaman dibuka dengan data seluler, dan situs ini dapat dipasang di layar utama ponsel lewat menu peramban. Langkahnya ada di LayarIndo21 di ponsel.
Lima jalur menurut selera
Bagi penonton yang ingin mengenal film Indonesia lewat para bintangnya, berikut lima jalur. Tiap jalur memuat empat film dari empat layar, sehingga Anda bertemu empat bintang sekaligus.
Jalur keluarga: Keluarga Cemara dari layar tamu, Cek Toko Sebelah dari layar Tora Sudiro, Sabtu Bersama Bapak dari layar Acha Septriasa, dan Susah Sinyal dari layar Adinia Wirasti. Jalur cinta: Ada Apa dengan Cinta? dari layar Adinia Wirasti, Habibie & Ainun dari layar Reza Rahadian, Perahu Kertas dari layar Adipati Dolken, dan Dilan 1990 dari layar tamu.
Jalur tawa: Ngenest dari layar Ernest Prakasa, Single dari layar Raditya Dika, Hangout dari layar Titi Kamal, dan My Stupid Boss dari layar Reza Rahadian. Jalur laga: Serbuan Maut dari layar Iko Uwais, The Big 4 dari layar Abimana Aryasatya, The Shadow Strays dari layar Adipati Dolken, dan Pengepungan di Bukit Duri dari layar Morgan Oey.
Jalur sejarah dan tokoh: Soekarno: Indonesia Merdeka dan Soegija dari layar tamu, Kartini dari layar Acha Septriasa, serta Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta dari layar Adinia Wirasti. Kelima jalur ini bersama-sama menyentuh tiga belas layar.
Enam pasangan film dari dua layar
Sebagian film paling enak ditonton berpasangan, dan layar yang berbeda sering menyimpan pasangannya. Pasangan pertama: Laskar Pelangi di layar Tora Sudiro dan Laskar Pelangi 2: Edensor di layar Abimana Aryasatya, satu kisah yang tokohnya tumbuh dari bocah Belitung menjadi mahasiswa di Paris.
Pasangan kedua: Habibie & Ainun di layar Reza Rahadian dan Rudy Habibie di layar Ernest Prakasa, kisah cinta dan kisah masa muda dari tokoh yang sama. Pasangan ketiga: Filosofi Kopi di layar Julie Estelle dan Filosofi Kopi 2: Ben & Jody di layar Rio Dewanto.
Pasangan keempat: Petualangan Sherina dan Petualangan Sherina 2, keduanya di layar Derby Romero, dua film dengan jarak dua puluh tiga tahun. Pasangan kelima: Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini dan Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti, keduanya di layar Rio Dewanto, kisah satu keluarga dari dua masa. Pasangan keenam: Nagabonar di layar tamu dan Nagabonar Jadi 2 di layar Tora Sudiro.
Tentang peran pendukung
Karena layar seorang bintang memuat peran utama maupun pendukungnya, beberapa penempatan mungkin mengejutkan. Laskar Pelangi berdiri di layar Tora Sudiro, yang di film itu memerankan seorang guru. Tiga film dunia Dilan berdiri di layar Bucek, pemeran ayah. Rudy Habibie berdiri di layar Ernest Prakasa, yang memerankan sahabat sang tokoh.
LayarIndo21 membiarkan penempatan itu apa adanya, sebab justru di situlah susunan menurut bintang terasa menarik. Pemeran pendukung adalah wajah yang paling sering kita lihat dan paling jarang kita cari. Mengikuti layar Bucek atau layar Tora Sudiro berarti menonton film-film besar dari sudut orang yang berdiri sedikit di samping sorotan.
Bila Anda mencari film dengan seorang bintang sebagai pemeran utama, halaman film memberi jawabannya: nama pertama dan kedua di daftar pemeran hampir selalu adalah tokoh utama.
Bintang besar di luar dua puluh satu layar
Dua puluh satu layar hanya menampung sebagian nama besar. Christine Hakim, Lukman Sardi, Chelsea Islan, Fedi Nuril, Ario Bayu, dan Dian Sastrowardoyo masing-masing muncul di lima sampai tujuh film katalog, tetapi sebagian besar film itu sudah diputar di layar bintang lain. Iqbaal Ramadhan, bintang dunia Dilan, berbagi film-filmnya dengan layar Bucek dan layar tamu.
Kotak pencarian menutup celah itu. Ketik nama mereka dan seluruh filmnya muncul, masing-masing dengan nama layar tempatnya berdiri. Dengan cara itu LayarIndo21 sebenarnya memiliki layar untuk setiap pemeran; dua puluh satu di antaranya saja yang diberi papan nama.
Empat puluh tiga komedi
Hampir seperempat katalog adalah komedi, dan sebarannya menunjukkan betapa banyak bintang Indonesia pernah melucu. Selain tiga layar komika, komedi mengisi sebagian besar layar Tora Sudiro dan Titi Kamal, serta muncul di layar Reza Rahadian lewat My Stupid Boss, Toko Barang Mantan, dan Mendarat Darurat.
Komedi berating tertinggi adalah Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (8,8), disusul Sabar Ini Ujian (8,0), Cek Toko Sebelah 2 (7,9), Susah Sinyal (7,7), dan Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (7,6). Empat dari lima judul itu melibatkan Ernest Prakasa atau rekan-rekan komikanya, di depan atau di belakang kamera.
Komedi Indonesia terbaik jarang hanya lucu. Cek Toko Sebelah bercerita tentang warisan dan pengorbanan anak, Susah Sinyal tentang ibu dan putrinya, Imperfect tentang rasa percaya diri. Tawa dipakai untuk membuka pintu, lalu ceritanya masuk ke hal yang lebih dalam.
Memilih layar menurut suasana
Ingin tertawa bersama keluarga? Buka layar Tora Sudiro atau layar Titi Kamal. Ingin drama yang tenang? Layar Nicholas Saputra dan layar Chicco Jerikho menyimpan film-film yang berjalan pelan. Ingin tegang? Layar Iko Uwais menunggu, dengan catatan bahwa kelima filmnya untuk penonton dewasa.
Menonton bersama anak? Petualangan Sherina di layar Derby Romero, Laskar Pelangi di layar Tora Sudiro, Jumbo di layar Angga Yunanda, dan Keluarga Cemara di layar tamu adalah empat pilihan yang aman. Menonton bersama orang tua? Nagabonar di layar tamu pertama dan Si Doel the Movie di layar tamu kedua hampir pasti memancing cerita lama.
Ingin sesuatu yang baru? Layar tamu 2023–2026 memiliki rata-rata tertinggi di antara layar tamu dan memuat film-film yang masih hangat dibicarakan. Ingin film pilihan saja? Daftar rating 7,5 atau lebih menyaring tiga puluh delapan judul dari seluruh layar.
Rencana empat pekan: empat kelompok
Bagi pembaca yang menyukai rencana, berikut satu usulan untuk bulan pertama, dua film tiap pekan dari satu kelompok. Pekan pertama, layar aktor: Habibie & Ainun dan Serbuan Maut, dua wajah sinema Indonesia yang paling dikenal di luar negeri dan di dalam negeri.
Pekan kedua, layar aktris: Ada Apa dengan Cinta? dan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, dua kisah cinta dengan jarak dua puluh satu tahun. Pekan ketiga, layar komika: Ngenest dan Single: Part 2. Pekan keempat, layar tamu: Keluarga Cemara dan Ngeri-Ngeri Sedap, dua film keluarga dari dua budaya di Indonesia.
Delapan film itu berasal dari tujuh layar dan mencakup drama, laga, komedi, dan kisah cinta. Sesudahnya, pilih bintang yang paling Anda sukai dan tamatkan layarnya.
Lima langkah untuk kunjungan pertama
Langkah pertama: lihat papan dua puluh lima layar di beranda. Langkah kedua: pilih bintang yang Anda kenal, atau layar tamu menurut tahun. Langkah ketiga: baca rating, durasi, dan nama layar di tiap poster.
Langkah keempat: buka halaman film, baca sinopsisnya, dan lihat daftar pemerannya. Langkah kelima: pilih negara Anda dan tekan Tonton sekarang. Uraian tiap langkah ada di Mulai di LayarIndo21, dan jawaban atas pertanyaan yang sering muncul ada di Tanya jawab.
Tiga generasi di dua puluh satu layar
Dua puluh satu bintang itu dapat dibaca sebagai tiga generasi. Generasi pertama naik pada awal 2000-an, ketika bioskop Indonesia bangkit kembali: Nicholas Saputra, Titi Kamal, dan Adinia Wirasti dari Ada Apa dengan Cinta?, Derby Romero dari Petualangan Sherina, Vino G. Bastian, Tora Sudiro, dan Acha Septriasa. Film tertua di layar mereka berasal dari 2000 sampai 2007.
Generasi kedua menguasai 2010-an: Reza Rahadian, Abimana Aryasatya, Rio Dewanto, Chicco Jerikho, Adipati Dolken, Dion Wiyoko, Morgan Oey, Iko Uwais, Julie Estelle, dan ketiga komika. Pada dasawarsa inilah jumlah film melonjak, dan nama-nama itu muncul di poster hampir setiap bulan.
Generasi ketiga baru memiliki satu layar, milik Angga Yunanda, yang seluruh filmnya rilis sejak 2019. Rekan-rekan seangkatannya masih mengumpulkan film dan untuk sementara berdiri di layar tamu. Bucek berdiri di luar hitungan ini: ia aktor senior yang kini paling sering tampil sebagai ayah.
Dari buku ke layar
Banyak film di LayarIndo21 lahir dari buku yang lebih dulu dicintai pembacanya. Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor diangkat dari novel Andrea Hirata. Perahu Kertas dan Filosofi Kopi diangkat dari karya Dee Lestari. Lima film Raditya Dika diangkat dari buku-bukunya sendiri. Dunia Dilan diangkat dari novel Pidi Baiq.
Bumi Manusia diangkat dari novel Pramoedya Ananta Toer, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dari roman Hamka. Critical Eleven dan Twivortiare diangkat dari novel Ika Natassa, Sabtu Bersama Bapak dari novel Adhitya Mulya, Aruna & Lidahnya dari novel Laksmi Pamuntjak, 5 cm dari novel Donny Dhirgantoro, dan Negeri 5 Menara dari novel Ahmad Fuadi.
Bagi pembaca, film-film itu menawarkan kesenangan ganda: melihat tokoh yang dulu hanya dibayangkan kini memiliki wajah. Dan sering kali wajah itu adalah salah satu dari dua puluh satu bintang di papan beranda.
Indonesia yang luas, dan dunia di luarnya
Layar-layar ini juga mengajak berkeliling. Laskar Pelangi berlatar Belitung, Ngeri-Ngeri Sedap berlatar tanah Batak di tepi Danau Toba, Tarung Sarung berlatar Makassar, Sokola Rimba berlatar hutan Jambi, dan Susah Sinyal membawa tokohnya ke Sumba. Lima sahabat dalam 5 cm mendaki Semeru, dan Aruna & Lidahnya singgah dari Surabaya sampai Singkawang.
Sebagian film pergi lebih jauh. Habibie & Ainun dan Rudy Habibie berlatar Jerman, Negeri van Oranje dan sebagian Si Doel the Movie berlatar Belanda, Surat dari Praha berlatar Ceko, Assalamualaikum Beijing berlatar Tiongkok, Merry Riana berlatar Singapura, dan Ali & Ratu Ratu Queens berlatar New York. Film Indonesia gemar mengirim tokohnya merantau, lalu bertanya apa arti pulang.
Malam berdua dan malam beramai-ramai
Untuk malam berdua, layar Adinia Wirasti dan layar Adipati Dolken menyimpan kisah cinta yang paling sering ditonton ulang: Ada Apa dengan Cinta?, Critical Eleven, dan dua film Perahu Kertas. Layar Reza Rahadian menambahkan Habibie & Ainun dan Twivortiare, dua potret pernikahan dari dua zaman.
Untuk malam beramai-ramai, komedi dengan banyak pemain adalah pilihan yang aman. Hangout di layar Titi Kamal mengumpulkan sembilan selebritas di satu pulau, dua film Warkop DKI Reborn di layar Tora Sudiro menghidupkan kembali lawakan lama, dan Comic 8 di layar Ernest Prakasa menampilkan delapan komika sekaligus. Makin ramai penontonnya, makin ramai pula tawanya.
Dan untuk malam ketika Anda ingin diam dan merenung, tiga film dari tiga layar layak dicoba: Ave Maryam di layar Chicco Jerikho, Gie di layar Nicholas Saputra, dan 27 Steps of May di layar tamu.
Yang dijaga LayarIndo21
Tiap film diputar di tepat satu layar. Aturan penempatannya sama untuk semua film dan disebut terang: enam pemeran teratas menurut catatan sumber data, dengan layar yang lebih kosong didahulukan bila beberapa bintang bermain bersama. Rating ditampilkan apa adanya, termasuk untuk film yang nilainya rendah.
Seluruh angka di halaman ini dihitung dari katalog itu sendiri, sehingga Anda dapat memeriksanya dengan membuka layar yang bersangkutan. Sinopsis ditulis dalam bahasa Indonesia, dan tombol Tonton sekarang selalu menuju JustWatch serta layanan resmi yang terdaftar di sana.
LayarIndo21 berdiri sendiri sebagai situs panduan dengan tim redaksinya sendiri, terpisah dari para pemeran, sutradara, dan rumah produksi yang namanya disebut. Poster, rating, daftar pemeran, dan data produksi berasal dari TMDB.
Dan satu harapan sebagai penutup: semoga layar-layar ini membuat Anda menonton lebih banyak film Indonesia, dimulai dari wajah yang sudah Anda kenal lalu berlanjut ke wajah-wajah di sebelahnya.
Pertanyaan
Apa itu LayarIndo21?
LayarIndo21 adalah panduan film Indonesia yang menyusun 183 film menurut pemerannya: dua puluh satu layar untuk dua puluh satu bintang dan empat layar tamu menurut tahun.
Siapa saja dua puluh satu bintang itu?
Empat belas aktor, termasuk Reza Rahadian, Iko Uwais, Vino G. Bastian, dan Nicholas Saputra; empat aktris, yaitu Adinia Wirasti, Titi Kamal, Acha Septriasa, dan Julie Estelle; serta tiga komika, yaitu Ernest Prakasa, Raditya Dika, dan Kemal Palevi.
Bagaimana sebuah film masuk ke layar seorang bintang?
Bila sang bintang termasuk enam pemeran teratas film itu, sebagai pemeran utama maupun pendukung. Bila beberapa bintang bermain bersama, film diputar di layar yang isinya paling sedikit.
Mengapa film seorang bintang ada di layar bintang lain?
Karena tiap film hanya diputar di satu layar. Ketik nama bintang di kotak pencarian untuk melihat seluruh filmnya di semua layar.
Layar siapa yang paling besar?
Layar Reza Rahadian, dengan sebelas film. Ia muncul di sembilan belas film katalog, terbanyak di antara semua pemeran.
Film apa yang ratingnya paling tinggi?
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) dengan 8,8, di layar Julie Estelle. Tiga belas film memiliki rating 8,0 atau lebih.
Apa isi layar tamu?
Enam puluh empat film dengan pemeran di luar dua puluh satu bintang, dalam empat layar menurut tahun: 1986–2015, 2016–2019, 2020–2022, dan 2023–2026.
Di mana film diputar?
Tombol Tonton sekarang membuka halaman film di JustWatch untuk negara pilihan Anda. Di sana tampil layanan resmi tempat film itu dapat ditonton, disewa, atau dibeli.
Apakah LayarIndo21 terkait dengan para pemeran?
LayarIndo21 adalah situs panduan mandiri. Nama pemeran dipakai untuk menyusun katalog, dan datanya berasal dari TMDB.
Bagaimana cara menyimpan film untuk nanti?
Tekan tombol Daftar Saya di poster atau di halaman film. Daftar tersimpan di peramban Anda dan bisa dibuka kembali kapan saja di perangkat yang sama.
★ 6,2
★ 6,2
★ 6,0
★ 6,7
★ 7,3
★ 7,5
★ 7,3
★ 6,3
★ 7,5
★ 7,4
★ 7,6
★ 6,9
★ 6,4
★ 6,5
★ 7,2
★ 6,1
★ 6,2
★ 6,0
★ 5,7
★ 6,5
★ 7,1
★ 7,4
★ 6,4
★ 7,5
★ 8,8
★ 7,6
★ 6,8
★ 6,3
★ 7,0
★ 5,9
★ 7,4
★ 6,6
★ 7,3
★ 6,2
★ 5,6
★ 7,5
★ 8,0
★ 6,5
★ 8,0
★ 7,1
★ 7,3
★ 7,9
★ 6,3
★ 6,8
★ 6,5
★ 6,0